Lapis Bogor dan proses berkembangnya

lapis bogor

Tidak dibayangkan sebelumnya oleh seorang ibu muda yang bernama Rizka Wahyu Romadhona bahwa dirinya bakal terkenal dan menuai keuntungan besar berkat inovasi dan kreasinya yang menciptakan produk lapis olahan dari bahan baku talas.

Sebagai sosok yang sederhana yang tidak memiliki keahlian khusus dan ilmu khusus di bidang botani, namun berkat semangatnya untuk berwirausaha menjadikan dirinya sosok yang tidak mengenal lelah untuk terus berinovasi menciptakan produk yang mampu dijual untuk mendapatkan keuntungan.

Sempat bangkrut saat berbisnis bakso, Rizka Wahyu Romadhona kini sukses dengan bisnis kue lapis dengan label Lapis Bogor Sangkuriang. Kejelian perempuan yang besar di Bogor ini dalam membaca peluang usaha di kota hujan, membuat kue buatannya kini laris diburu pembeli.

Rizka memulai berbisnis kue lantaran terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebelumnya, bersama suami Anggoro Kasih Nugroho, ia mempunyai usaha bakso sejak tahun 2008, bahkan sampai memiliki 20 cabang dengan sistem kemitraan. Namun karena ada kesalahan dalam manajemen, omzet usahanya itu perlahan terus menurun dan akhirnya bangkrut. Kebangkrutan itu bahkan menyisakan cicilan rumah selama empat bulan yang tak bisa dibayar, dan memaksanya untuk menjual mobil, dan merelakan tiga motor operasional-nya ditarik kembali oleh leasing.
Saat itu kondisi keuangannya benar-benar minus. Namun ia terus berpikir, untuk menemukan usaha lain yang bisa dilakukan selanjutnya. Akhirnya setelah berpikir lama, muncul ide menjual oleh-oleh berupa kue lapis talas dengan nama Lapis Bogor Sangkuriang. Ia terinspirasi dari lapis Surabaya, dan merasa tidak ada salahnya kalau di Bogor pun ada kue lapis Bogor.

 

Lapis Bogor
Lapis Bogor

 

Oleh karena sudah diniatkan ingin memiliki usaha, tak ada rasa kapok dalam diri Rizka untuk berbisnis lagi. Pilihannya berbisnis kue didasarkan pada kenyataan bahwa Bogor, tempat tinggalnya selama ini, dikenal sebagai kota pariwisata. Tiap akhir pekan selalu macet oleh wisatawan. Dari situ Rizka berfikir, jika ia bisa menjaring 10 persen saja dari wisatawan itu untuk membeli produknya, hasilnya sudah sangat lumayan. Ia pun sengaja memilih talas sebagai bahan dasarnya, karena kota Bogor juga identik dengan talas. Maka tak ada salahnya untuk memanfaatkannya. Dengan pengolahan yang baik, talas pun bisa dijadikan makanan yang modern. Terlebih selama ini belum ada yang mengolah talas menjadi kue lapis, hanya sebatas keripik dan gorengan saja.

Sebetulnya, Rizka yang merupakan alumni Tehnik Elektro ITS Surabaya ini tidak terlalu pandai membuat kue. Satu-satunya kue yang mampu ia buat hanyalah kue lapis Bogor ini. Itu pun setelah terlebih dahulu belajar dari ibunya yang kebetulan memang suka membuat kue rumahan. Setelah itu, ia memodifikasinya sendiri. Sekitar sebulan lamanya ia belajar, seminggu bisa sampai tiga kali ia terus mencoba-coba membuat kue modifikasi dari talas.

Pertama kali ia membuat kue, hasilnya bantat. Terkadang juga terlalu manis. Awalnya hanya kerabat dekat yang diminta untuk mencicipi. Ia pun selalu memperbaiki kuenya berdasarkan saran dari para kerabatnya itu. Setelah itu, gantian para tetangganya yang diminta untuk mencicipi. Ternyata menurut mereka hasilnya enak, bahkan mereka juga mulai memesan. Sejak itulah, Rizka dan suaminya mulai serius berjualan kue lapis talas Bogor.

Rizka memulai bisnisnya ini dengan modal yang sangat terbatas, hanya Rp 500 ribu, yang merupakan sisa dari bisnis baksonya. Uang itu ia belikan bahan baku dan alat pengukus. Ia menggunakan tepung talas yang dibelinya dari toko langganan di pasar yang harganya sangat murah. Oleh karena dikerjakan sendiri bersama suaminya, awalnya produksi dimulai dari pukul 06.00 hingga pukul 04.00 keesokan harinya.

Setelah mendapat pesanan dari para tetangganya, Rizka lalu mulai menawarkan kuenya ke teman-teman kampus, keluarga lain, kelompok pengajian, dan komunitas lain, seperti komunitas entrepreneur. Lalu ia juga mencoba masuk ke instansi pemerintah. Ketika berhasil masuk ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan, ia mendapat respons yang sangat baik, bahkan ditawari menjadi mitra binaan. Dari situ ia sering diajak pameran dan mendapat berbagai pelatihan.

Rizka pun juga mencoba masuk ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, karena di kemasan kue lapisnya tercantum slogan “Visit Bogor”. Ternyata respons-nya juga positif. Ia lalu dikenalkan ke Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota dan Kabupaten Bogor, yang langsung memfasilitasi penjualan produknya. Ketika PHRI mengadakan sebuah acara, ia selalu diundang untuk ikut meramaikan. Misalnya, ketika ada diklat di sebuah hotel selama tiga hari, ia diundang di hari terakhir untuk berjualan dengan sistem bagi hasil.

Semula Rizka hanya menawarkan satu varian kue lapis, yakni lapis Bogor talas. Tapi saat ini sudah ada lapis Bogor keju, lapis Bogor brownies talas, dan lapis Bogor green tea. Dalam proses produksinya pun saat ini ia juga berusaha meminimalisir sentuhan tangan. Jadi hampir semua proses menggunakan mesin, termasuk mengolah krim lapisannya.

Saat ia mengikuti berbagai pameran untuk menjual produknya, respons yang diterima dari masyarakat juga sangat positif. Awalnya, ia hanya menggunakan kemasan plastik mika warna cokelat yang ditempeli stiker. Namun setelah mengikuti beberapa pelatihan, ia baru menyadari bahwa kemasan yang menarik juga sangat penting. Akhirnya, ia pun mulai mengganti kemasannya dengan menggunakan boks. Hasilnya, orang jadi makin tertarik dan lonjakan penjualannya pun semakin lumayan.

Awalnya, per hari hanya dua boks yang terjual, lalu perlahan mulai meningkat hingga mencapai 50-100 boks per hari. Rizka pun mulai berani membuka outlet di Jalan Baru (Jalan Soleh Iskandar), Bogor di Desember 2011. Empat bulan kemudian, ia membuka outlet lagi di Jalan Pajajaran dan di Puncak pada Desember 2012. Sekarang ia juga sudah punya pabrik sendiri di daerah Tanah Baru, Bogor. Kini kue yang bisa terjual sudah di atas 2000 boks per harinya, dengan harga Rp 25-30 ribu per boks.

Rizka tentu saja tak bisa melupakan peran media yang membuat usahanya bisa berkembang dengan pesat seperti saat ini. Tadinya, outlet yang teletak di Jalan Baru dibagi menjadi dua ruangan. Satu untuk produksi, dan satunya lagi berfungsi sebagai toko. Namun lama kelamaan tempatnya sudah tak mencukupi lagi karena jumlah pembeli dan produksi makin banyak. Saat membuka outlet di Jalan Pajajaran, akhirnya produksi sempat dipindahkan ke sana dengan memanfaatkan ruang di lantai basement yang kebetulan tersedia. Dan lagi-lagi, tempatnya tidak mencukupi. Akhirnya ia pun membangun pabrik khusus di daerah Tanah Baru. Meski hanya seluas 400 m2, namun sanggup memenuhi kebutuhan produksinya.

Ciri khas lapis Bogor buatannya adalah tentu saja dari bahannya yang menggunakan talas, teskturnya juga sangat lembut, dan rasanya tak terlalu manis. Biasanya kue lapis Bogor buatannya sering dijadikan oleh-oleh, arisan, rapat, atau untuk dikonsumsi sendiri.

Dalam menjalankan usaha, tentu saja ada beberapa kendala yang kerap ditemui Rizka. Mulai dari saat memulai usaha dengan kendala modal yang terbatas, maka untuk penjualannya pun juga masih sangat terbatas, karena tak langsung bisa membuka outlet. Bersama suaminya ia pun harus bergerilya dari satu kantor ke kantor lain untuk memasarkan kuenya. Kendala lain yang terjadi saat ini terletak pada sumber daya manusia dan ketersediaan mesin pengukus. Mesin yang dimilikinya saat awal merintis usaha sudah tidak memadai lagi jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan produksi sekarang.

Rizka pun segera mengatasinya dengan menambah 15 mesin tambahan lagi dengan kapasitas 96 loyang per mesin untuk sekali pengukusan. Sekarang ini, kue yang diproduksinya memang cepat sekali habis, meskipun dalam sehari, beberapa kali dikirim dari pabrik. Dua minggu sebelum lebaran, pembeli bisa antre sejak pukul 06.00 sampai sepanjang 200 meter, meskipun outlet baru dibuka pukul 07.00. Agar pembeli tetap tertib, Rizka pun sekarang menerapkan sistem nomor antrian.

Semula Rizka memang tidak pernah membatasi orang yang ingin membeli kue di outletnya. Namun ia mendapatkan kenyataan banyak orang yang sekali beli sekaligus dalam jumlah banyak, yang membuat kuenya langsung habis dalam waktu satu jam sejak dikirim dari pabrik. Sehingga banyak pembeli berikutnya yang tidak kebagian, terutama wisatawan yang datang dari luar kota di akhir pekan. Tentu saja hal ini sangat mengecewakan mereka.

Ternyata, pun orang yang membeli dalam jumlah banyak itu lalu menjualnya kembali dengan mobil di tempat parkir depan outletnya. Maka oleh karena itu, sejak September 2012 ia membatasi jumlah pembelian, maksimal hanya lima boks per orang. Ini juga sekaligus untuk mengurangi orang yang menjual lagi kue lapisnya, sehingga lebih banyak orang yang kebagian.

 

Orang-orang yang menjual kuenya lagi di luar, tentu saja dapat memberikan pengaruh yang kurang baik untuk usahanya. Mereka tentu saja akan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi, sehingga orang lain pun jadi malas beli. Selain itu, kue yang dijual di luar juga tidak bisa dijamin kualitasnya, karena bisa saja terkena debu atau sudah berumur beberapa hari. Padahal kue lapis Bogor buatannya ini tidak menggunakan pengawet, sehingga rentan terhadap panas. Jika biasanya masa kadaluarsanya empat hari, bisa jadi akhirnya cuma dua hari karena dijual di tempat yang terkena sinar matahari.

Soal masalah kadaluarsa, Rizka mengaku pernah mendapatkan komplain dari pembeli. Ada pembeli yang setelah kue dibawa ke luar dari tokonya dalam kondisi panas, lupa dikeluarkan dari dalam mobil. Akhirnya, dalam dua hari saja kuenya langsung berjamur. Pernah juga ada orang yang komplain terhadap kualitas kuenya, padahal ia membelinya di luar outlet resmi.

Selain menjual langsung melalui outlet, Rizka juga mempunyai strategi pemasaran lain yang ia gunakan untuk meluaskan penjualan produknya. Yakni dengan memanfaatkan jejaring media sosial, melalui akun Facebook Lapis Bogor dan Twitter @LapisBogor. Dulunya, ia juga pernah memakai sistem layan antar. Pernah ada seorang ibu hamil di Bandung yang ngidam ingin makan kue lapisnya. Akhirnya ia kirimkan. Namun sampai sana ternyata kuenya berantakan. Sejak itu, layanan itu pun dihentikan, dan lebih memilih fokus menjual di Bogor saja.

Rizka juga tidak ingin mewaralabakan usahanya, meskipun banyak sekali yang menawarkan. Ia tetap ingin mengelola sendiri usahanya. Saat ini karyawannya sudah sekitar 100 orang. Bila dulu hanya ia dan suaminya yang mengelola, sekarang sang suami hanya mengurusi operasional, sementara ia mengurusi manajemennya.

Usaha yang digeluti Rizka ini juga telah membuahkan penghargaan, antara lain pada Wirausaha Muda Mandiri 2012 untuk regional Jabodetabek dan Wanita Wirausaha Mandiri 2013 dari sebuah majalah wanita. Selain itu ia juga sering diminta pihak Istana Negara di Bogor dan Cipanas untuk mengisi berbagai acara. Ketika ibu Ani Yudhoyono berulang tahun beberapa waktu yang lalu, kuenya sempat dijadikan sebagai souvenir. Selebritis pun banyak juga yang membeli kue di outletnya. Mereka umumnya tahu dari media dan sosial media.

Rencana berikutnya, Rizka ingin membuka outlet yang sekaligus menyatu dengan rumah makan. Di dalam rumah makan itu nantinya akan diisi dengan iringan alunan musik tradisional Sunda. Ia aka mengajak kerja sama dengan seorang budayawan Bogor untuk mewujudkan idenya ini.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *